Murid mana yang tidak ingin mendapatkan doa dari guru? Doa mana yang lebih diharapkan, antara doa yang dimintakan orang tua kepada guru untuk anaknya, ataukah doa yang dipanjatkan guru tanpa diminta disebabkan kebaikan akhlak muridnya?
![]() |
| kredit foto: web.facebook.com/ArRohimpangkalanbun |
KH Abdul Qoyyum Mansur, pengasuh
Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang mengambil contoh si kecil Ibnu Abbas yang
menyiapkan air wudhu untuk Rasulullah di waktu malam. Waktu itu mereka tengah
berada di rumah bibinya Ibnu Abbas, Maimunah namanya. Sang bibi berkata, “Wahai Rasulullah, yang menyiapkan air wudhu untukmu adalah
Ibnu ‘Abbas.”
Maka Nabi pun mendoakan Ibnu Abbas, “Ya Allah,
pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR.
Ahmad)
"Beda dengan orang zaman
sekarang, minta doa tanpa berkhidmah dulu. Yang ada minta doa langsung minta
selfi," sindir putra Kyai Mansur ini sambil terkekeh.
Berkhidmah ada tiga macam caranya.
· Pertama: bin nafs (dengan fisik atau tenaga). Ini banyak dilakukan santri di pondok pesantren. Biasanya santri ikut di ndalem (kediaman) kiai untuk membantu-bantu pekerjaan rumah tangga kiai. Di sekolah, murid diajarkan ikut membawakan barang milik ustadz, menggendongkan bayinya ustadzah, menyiapkan sandal guru seperti yang dilakukan kedua putra Khalifah Harun Ar-Rasyid tiap gurunya beranjak meninggalkan majelis.
· Kedua: bil mal (dengan harta). Dulu banyak sekali kiai-kiai yang memondokkan (membiayai) orang yang tidak ada hubungan saudara.
· Ketiga: bid du'a (dengan doa). Hendaknya ketika akan melakukan khidmah macam terakhir ini, melakukan khidmah jenis yang pertama atau yang kedua terlebih dahulu. Saran Kyai Mansur.



0 Comments: