Guru Tidak Boleh Dilarang Membawa Balitanya Ke Sekolah

Guru Tidak Boleh Dilarang Membawa Balitanya Ke Sekolah

Pertama, sekolah adalah tempat mendidik keteladanan, lebih tinggi dari sekedar mentransfer ilmu dari guru kepada murid. Keteladanan tidak bisa ditanamkan hanya dengan menuliskannya di papan tulis lalu disalin di buku-buku. Keteladanan perlu dirasakan, yakni saat murid melihat gurunya bersusah-susah mengajar, tapi masih tidak melalaikan kewajiban mengasuh balitanya. Kondisi ini tidak ringan, bahkan mudah menguras kesabaran. Maka murid akan menyaksikan sendiri ketulusan sentuhan gurunya dalam memanjangkan kesabaran untuk anaknya dan untuk murid-muridnya. Pelajaran ini, tidak mungkin didapat dalam buku teks manapun.

Kredit foto: bincangmuslimah.com/

Kedua, ibu guru adalah seorang ibu dan seorang guru sekaligus, seperti dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan. Mungkinkah seorang ibu menitipkan anaknya kepada orang lain, lalu mengutamakan anak orang lain untuk dia didik? Bagaimana bisa? Padahal sang anak paling membutuhkan sentuhan dari ibunya sendiri lebih daripada siapapun. Memaksa ibu guru meninggalkan anaknya di tempat penitipan sama halnya merenggut anak dari ASI lalu menggantinya dengan susu bubuk. Meninggalkan fitrah kepada rekayasa.

Ketiga, murid yang terlibat secara tulus dalam pengasuhan anak-anak guru saat mereka dibawa ke kelas adalah bagian ta’dzim (penghormatan) kepada guru. Hati mereka akan dipenuhi dengan empati, tepa selira, dan rasa syukur. Ketika murid-murid itu pulang kembali ke rumah, mereka akan melakukan penghormatan yang sama kepada orang tua-orang tua mereka. Mereka akan berlapang dada terhadap kondisi orang tuanya tatkala perhatian keduanya harus terpecah kepada hal-hal lain yang menjadi kewajiban, sebagaimana mereka menyaksikan contohnya di sekolah, saat sang guru meminta ijin merawat anaknya untuk suatu keperluan.

Sedangkan murid yang dijauhkan dari keterlibatan ini,  menganggap perhatian guru harus tercurah kepadanya, enggan mengulurkan tangan membantu kerepotan gurunya, memandang balita-balita yang ikut masuk kelas itu mengganggu sekali, maka Anda tidak ingin membayangkan apa yang akan mereka lakukan kepada kedua orang tuanya saat mereka pulang dari sekolah.

 

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: